oleh Agus Sudarmaji, Psi. MSc.
Pekan lalu penulis mengantar Shidiq, anak ke tiga kami kelas 1 SD, ke sekolahnya. Pasalnya ia mengancam mogok sekolah kalau tidak di antar ibu atau ayahnya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres bila ia seperti itu. Setiba di sekolahnya ia bergabung dengan teman-temannya yang sedang berbaris di depan kelas. Tak lama berselang gurunya datang, seorang perempuan muda berbadan langsing. Penulis pun segera menemukan sebab mengapa Shidiq menuntut di antar ke sekolah.
Rupanya guru itu tak menampakkan senyuman di wajahnya yang mungil. Setengah menghardik ia perintahkan ketua kelas menyuruh masuk barisan paling dekat pintu kelas. Satu persatu anak-anak yang mulai belajar berseragam merah putih itu maju menghampiri gurunya sambil memperlihatkan kedua tangan mereka untuk diperiksa kukunya. Menakjubkan, sang guru memukul tangan beberapa siswa, mungkin kuku mereka panjang atau kotor, tanpa suara, apalagi senyum di wajahnya. Sementara itu sebagian siswa masih sempat menyembunyikan senyum saat berjalan seperti rangkaian gerbong kereta.
Ibunya pernah menyampaikan bahwa pernah ada orangtua siswa yang mengingatkan mengapa guru itu galak namun ditangkisnya dengan mengatakan ia bukan galak namun tegas. Penulis sempat mengkonfirmasi kepada Shidiq apa pendapatanya tentang ibu gurunya. Mulanya terdiam, lalu mulailah ia berkata bahwa ia tidak menyukai gurunya karena ‘jutek’ (judes/ketus). Penulis pun menemukan bahwa selama sebulan pertama di sekolah barunya itu Shidiq tidak kunjung maju belajarnya. Terakhir ibunya melaporkan bahwa Shidiq baru boleh dijemput satu jam dari jam usai sekolahnya dan lebih mengejutkan saat ditengok ke dalam kelas ternyata Shidiq dan tiga orang temannya sedang duduk menulis di lantai. Ibunya setengah tidak terima kondisi itu dan dari sang guru mendapat keterangan bahwa keempat anak itu paling lamban di kelas dan terpaksa diberi tugas menyalin dari satu sisi papan tulis sementara anak kelas satu yang masuk siang duduk di kursi sepenuh kelas.
Guru adalah Kunci Sukses Pendidikan
Apa yang dialami Shidiq itu mungkin juga dialami sekian banyak siswa di sekolah-sekolah lain baik negeri maupun swasta. Mereka merindukan sosok guru yang tidak pernah kehilangan senyum dari wajahnya dan dengan sabar membimbing serta membantu mereka menghadapi semua kesulitan seiring proses pembelajaran yang terus berjalan. Proses belajar pasti diikuti munculnya berbagai kendala dan permasalahan yang bagi sebagian siswa tidak mampu diatasi sendiri. Gurulah sang penyelamat bagi siswa yang menggapai-gapai nyaris tenggelam di tengah ketidakberdayaan menghadapi persoalan-persoalan belajarnya. Gurulah sang penunjuk jalan bagi siswa yang tak tahu arah di belantara kehidupan. Gurulah sang penentram saat siswa gundah, cemas ataupun takut menghadapi berbagai ancaman dari dalam maupun luar diri mereka.
Guru adalah kunci keberhasilan pendidikan. Paulo Freire terobsesi pendidikan yang membebaskan jiwa manusia dari segala bentuk kekangan apalagi penjajahan. Ki Hajar Dewantara memimpikan pendidikan yang membangun jiwa kejuangan. Semua itu baru tercapai bila guru menjelma menjadi manusia pendidik yang sesungguhnya, yang mengawal pendidikan dengan berbagai kemuliaan. Sesempurna apapun suatu konsep pendidikan tak akan banyak berguna bila tidak didukung SDM guru yang handal.
Back to Basic: Mengajar dengan Hati
Motif atau niat yang terbit dari hati mempengaruhi prilaku manusia. Bila motifnya positif atau niatnya baik maka prilaku pun akan positif. Maka menghadirkan guru pilihan dimulai dengan bact to basic yaitu mengajak guru memilih profesinya dengan hati yang ikhlas. Penulis bersama Tim Gerutas (Gerakan Guru Berkualitas) ICMI di tahun 2008 pernah melakukan riset yang hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 55% guru yang diteliti memilih profesi guru bukan sebagai pilihan pertama. Mereka menjadi guru sebagian karena tidak ada pilihan lain, karena diarahkan orangtua, karena turun-temurun dari keluarga guru atau sekedar mengikuti teman atau yang lainnya. Keputusan awal memilih profesi guru yang bukan datang dari hati ini mempengaruhi kinerja mereka di sekolah.
Dengan mengubah paradigma bahwa profesi guru adalah benar pilihan hati maka diharapkan prilaku guru pun berubah. Demikian pentingnya hati sebagai pengendali prilaku sampai-sampai Nabi Shalallahu ‘alahi wassalam mengatakan bahwa bila hati baik maka baik seluruh tubuh manusia sedang bila hati rusak maka rusak seluruh tubuh itu. Seseorang tidak akan pernah tersenyum bila dalam dirinya tidak ada keinginan untuk tersenyum. Keinginan tersenyum itu baru terbit bila dalam hati tersedia slot atau program untuk senyum.
Slot senyum itu harus diinstal atau ditanam dalam hati selain sebagai program yang mengendalikan wajah selalu senyum juga sebagai program yang menjaga hati dari berbagai penyakit. “Senyummu ke wajah saudaramu adalah sedekah”, demikian sabda tambahan dari Nabi tentang hati. Hati yang selalu tersenyum adalah selalu bersedekah dan sedekah itu adalah perisai bagi berbagai penyakit, bala’ dan fitnah. Cobalah bereksperimen sedikit, ketika Anda membunuh keinginan untuk tersenyum maka seolah ada sesuatu dalam jiwa Anda yang meredup dan terus menjadi dingin. Namun ketika Anda memaksa tersenyum saat peristiwa pahit mendera bahkan getirnya sempat mengebaskan rasa dari tangan dan kaki Anda maka rasakanlah sesuatu yang hangat tumbuh mendesak semua kepahitan seiring senyum yang mekar dari bibir Anda.
Tersenyumlah wahai guru-guru kesayangan para murid, teruslah tersenyum. Sungguh sekedar melihat air wajahmu yang selalu hangat murid-murid yang suci jiwanya itu memetik mukjizat alam dan siap menerima tetesan ilmu dari Sang Pengajar Agung, Allah Azza wa Jalla. Betapa mereka memerlukan keajaiban dan mukjizat itu untuk mengarungi hidup mereka yang pasti lebih berat dari hidup kalian wahai para guru. Mereka akan memasuki zaman di mana fitnah lebih berat, lebih ganas dan lebih kejam dari yang pernah kalian lihat sepanjang hidup. Bantulah mereka mempersiapkan diri menjadi orang yang lebih pintar, lebih kuat, lebih tangguh dari kalian dan tentu saja lebih mampu tersenyum di segala cuaca buruk.
Guru yang Cerdas Nurani
Senyum sejatinya bukan persoalan sederhana. Dahulu orang berfikir senyum muncul saat orang senang. Orang baru senang kalau mendapat tambahan rizqi. Namun realitanya makin banyak rizqi makin menumpuk harta tidak otomatis menjamin senyum makin mengembang. Betapa sering kita dapati justru orang semakin kaya atau semakin tinggi jabatan semakin berkurang senyum seseorang seperti yang diobservasi oleh Gede Prama. Senyum adalah cermin kecerdasan nurani. Guru yang menjaga senyumnya adalah guru yang cerdas nuraninya.
Kecerdasan nurani ini menjadi pembeda guru yang sukses sebagai pendidik atau sebaliknya. Seribu satu alasan bagi guru yang cerdas nurani untuk tersenyum. Ia tersenyum karena baginya murid adalah anugrah yang membuat mereka selalu ingin membimbing, membantu, menolong dan melihat mereka tumbuh sebagai manusia yang menghargai kemuliaan dan membenci kepalsuan. Ia pun tersenyum karena baginya tugas mengajar atau mendidik adalah anugrah yang selalu dijaganya agar terlaksana sebaik mungkin. Ia pun masih mampu tersenyum saat masalah terus mewarnai kesehariannya. Masalah dipandangnya sebagai anugrah pula karena itu bukti Tuhan masih mempercayainya sebagai seorang problem solver yang handal. Secara general ia melihat hidup ini adalah anugrah dengan sengenap romantika suka dukanya. Tak ada hari tanpa senyum kesyukuran atas semua anugrah itu.
Guru yang cerdas nurani mampu bersikap melayani. Tugas melayani dipandangnya sebagai tugas hidup yang mulia. Ia melayani muridnya, orangtua muridnya, rekansejawatnya dan siapa saja. Mentalitas melayani mendorongnya untuk memberikan service terbaik baik customer-nya. Ia tidak mengijinkan dirinya memasuki kelas kecuali dengan persiapan yang prima, penampilan yang prima serta pelayanan yang prima. Baginya kemuliaan melayani adalah saat tangannya mampu berada di atas, selalu memberi, menawarkan dan menyantuni. Ia sangat menjaga agar tangannya tidak jatuh ke bawah karena sikap menuntut, meminta apalagi mengemis dari manusia.
Guru yang cerdas nurani akan memfasilitasi segenap sumberdaya di sekelilingnya untuk menciptakan suasan pendidikan yang juga cerdas nurani. Yaitu pendidikan yang jauh dari keluh kesah, pendidikan yang membersihkan jiwa dari berbagai penyakit serta pendidikan yang mengarah pada pembangunan karakter semulia-mulia manusia yaitu yang benar dalam membuat pilihan hidup berdasarkan getar suci nuraninya.
Penulis yakin Shidiq dan keempat temannya yang ‘lamban’ tadi akan tumbuh menjadi orang-orang besar di tangan guru yang cerdas nurani. Guru yang memahami kelemahan mereka namun tidak pernah melabel mereka lamban. Guru yang bak Anne Sullivan bagi Helen Keller, mampu menemukenali potensi, kelebihan dan talenta bahkan pada diri murid-muridnya yang paling terbelakang sekalipun. Guru yang bersabar menghadapi setiap anak terutama yang berkebutuhan khusus. Disadarinya anak yang berkebutuhan khusus menuntutnya terus belajar menguasai teknik-teknik pengajaran paling efektif dan belajar mengatasi segenap ketidakmampuan atau kelumpuhan dalam jiwanya sendiri.
Orang-orang besar hanya lahir dari tangan guru-guru yang berjiwa besar. Guru-guru yang berjiwa besar itu mampu mengatasi persoalan-persoalan besar dengan cara-cara yang besar dan tetap tersenyum. Adapun orang-orang berjiwa kerdil bahkan tidak mampu tersenyum saat berhadapan dengan persoalan kecil. Jiwa kerdil selalu takut melihat masalah, mengahadapi tantangan maupun dalam menjalani kehidupan.
Guru Cerdas Nurani artikel ini juga telah dimuat di Harian Radar Bekasi
Agus Sudarmaji, Psi, MSc
Psikolog, pendidik (mengajar di Universitas Negeri Jakarta)



