Ada pendapat yang bilang kalau kamu adalah apa yang kamu usahakan pada masa lalumu. Ada juga yang bilang kamu adalah cerminan sahabat-sahabatmu. Mirip juga dengan kamu adalah cerminan lingkunganmu.
Saya lebih cenderung ke kalimat yang ketiga. Dimana lingkungan baik itu skala mikro maupun makro memberikan kontribusi kepada seseorang. Baik itu nilai hidup, gaya hidup bahkan bagaimana seorang individu itu hidup.
Dimensi spiritual yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, memberikan sebuah instrumen yang mampu berdiri sendiri dan memberikan pengaruh kepada individu selain lingkungan makro dan mikro. Itulah hidayah atau petunjuk bahasa kerennya guidance.
Kekuatan lingkungan makro dan mikro yang kuat dalam mempengaruhi individu tidak akan berdaya manakala unsur spiritual hadir dan memberikan pengaruh signifikan. Seolah dua faktor itu menjadi nisbi.
Saat ini ramai stereotyping atas perilaku dan kebiasaan sebuah generasi yang ramai di khalayak berdasarkan analisa para ilmuwan. Kita hargai dari dimensi ilmiah karena memang ada kemiriipan dari analisa tersebut yang dapat disematkan untuk sebuah generasi.
Setiap generasi memiliki ciri khas sesuai tantangannya. Secara alami setiap generasi melahirkan generasi berikutnya. Teknologi dan keilmuan menjadi faktor kunci dalam perbedaan setiap generasi.
Sayangnya perbedaan generasi saat ini dimunculkan sebuah stereotyping atas sebuah generasi yang cenderugn negatif. Sehingga masing masing generasi seolah olah merasa superior dibandingkan dengan generasi lainnya. Padahal sebagaimana disebutkan diatas setiap generasi lahir dari tantangan dan kesempata n yang ada pada zamannya.
Generasi anu merasa lebih enak dibandingkan generasi ani. Generasi ani lebih rendah kualitasnya dengan generasi anu. Generasi anu gaptek semetara generasi ani iptek. Pertanyaanya lalu siapa yang melahirkan generasi anu dan ani ?
Jangan jangan sterotyping atas kelemahan sebuah generasi adalah upaya berlepas diri dari generasi sebelumnya yang menghasilkan generasi saat ini. Atau sebailiknya , keunggulan sebuah generasi merasa tiada ada kontribusi dari generasi sebelumnya.
Fenomena ini justru menjadi blunder untuk peradaban karena memunculkan sebuah unsur kesombongan dari masing masing generasi. Bukankah kesombongan menjadi penyebab utama hilangnya sebuah generasi sebagaimana yang disebutkan dalam kitab suci.
Mengapa tidak memilih bagaimana setiap generasi bertanggung jawab atas generasi lainnya. Saling mengisi tanpa menangisi, saling asuh tanpa memisuh dan saling asih dengan mengasihi. Sehigga peradaban menjadi lebih baik dan bumi serta seisinya menjadi harmoni yang menyenangkan untuk ditinggali sebagaimana kitab suci juga pernah mencatatnya.
Setiap zaman ada generasinya dan setiap generasi ada zamannya. Jangan sampai ada zaman yang tidak ada generasinya.
Wallahu’alam.



